Jumat, 05 Desember 2014

Revisi Aliran Realisme

Berfilsafat Melalui Kebenaran antara Agama dan Matematika


          Definisi filsafat, realisme, dan matematika
            Filsafat artinya alam berpikir. Berfilsafat berarti berpikir. Namun, tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat disini adalah berpikir secara mendalam terhadap sesuatu. Filsafat adalah ilmu pokok atau pangkal ilmu dari segala ilmu pengetahuan. Bahasan filsafat menuju pada pencarian kebenaran/hakekat. Sejak zaman Aristoteles hingga dewasa ini lapangan-lapangan yang paling utama dalam filsafat selalu berputar di sekitar logika, metafisika, dan etika. Dengan memperhatikan sejarah serta perkembangannya, filsafat mempunyai beberapa cabang yaitu: (1) Metafisika: filsafat tentang hakikat yang ada di balik fisika, hakikat yang bersifat transenden dan berada di luar jangkauan pengalaman manusia; (2) Logika: filsafat tentang pikiran yang benar dan yang salah; (3) Etika: filsafat tentang perilaku yang baik dan yang buruk; (4) Estetika: filsafat tentang kreasi yang indah dan yang jelek; (5) Epistomologi: filsafat tentang ilmu pengetahuan; (6) Filsafat-filsafat khusus lainnya: filsafat agama, filsafat manusia, filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat pendidikan, dan sebagainya.
            Real berarti yang aktual atau yang ada. Kata tersebut merujuk kepada benda-benda atau kejadian. Dalam arti yang sempit, realisme berarti anggapan bahwa objek indera kita adalah real. Benda ada itu terlepas dari kenyataan bahwa benda itu kita ketahui, atau kita persepsikan atau ada  hubungannya dengan pikiran kita. Real bukan merujuk pada suatu khayalan namun lebih kepada sesuatu yang nyata.
            Matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Matematika sering disebut sebagai ratunya ilmu atau ilmu pasti. Jika filsafat adalah pangkal dari segala ilmu pengetahuan, maka matematika adalah produk dari filsafat. Di dalam matematika banyak sekali hal-hal yang bisa kita kaji melalui filsafat. Matematika sangatlah memperhatikan semesta. Semua bidang pengetahuan science misalnya sudah pasti akan menggunakan matematika di dalamnya. Untuk sebagian orang awam yang tidak mengerti filsafat pasti tidak pernah menghiraukan misal darimana itu simbol angka “2” atau simbol-sibol yang lainnya. Bila kita berpikir secara filsafat, pasti akan timbul suatu pertanyaan dalam benak kita, mengapa angka dua disimbolkan dengan simbol “2”, mengapa tidak menggunakan simbol lainnya?. Itu salah satu hal yang bisa dikaji dengan filsafat.   
Makna kebenaran
Realisme erat kaitannya dengan sesuatu yang fakta atau yang ada buktinya, bukan kepada sesuatu yang hanya kita inginkan atau kita harapkan.  Apa yang kita yakini ada, biasanya tergantung pada persepsi pertama yang kita yakini. Realisme menyatu dengan kebenaran. Apa itu benar? Mengapa sesuatu bisa dianggap benar? Yang benar sudah pasti bukan yang salah. Untuk membuktikan suatu kebenaran kita terbiasa menggunakan rasio dan juga menggunakan pengalaman. Kata kebenaran sendiri memiliki arti yang berbeda-beda di setiap individu. Sesuatu yang dianggap benar apabila mendapatkan persetujuan benaar dari pihak mayoritas. Dan sesuatu dianggap salah apabila sebaliknya. Sebagai contoh di Indonesia, sesuatu yang dianggap benar adalah sesuatu yang mayoritas. Mayoritas dalam hal ini adalah umat islam di Indonesia. Yang dikatakan benar di Indonesia adalah yang sesuai dengan norma atau hukum islam. Padahal terkadang masyarakat lupa bahwa Indonesia bukan hanya terdiri dari umat muslim.
Kebenaran menurut agama dan matematika
Kebenaran menurut matematika, mungkin akan berbeda dengan kebenaran menurut islam. Hal ini dikarenakan matematika adalah ilmu pasti yang membutuhkan pembuktian dan kesepakatan sedangkan islam meyakini segala sesuatu yang datangnya dari Allah SWT adalah kebenaran. Segala sesuatu yang disuruh, dianjurkan, dan dikatakan didalam Al-quran adalah kebenaran. Ilmuan yang mendalami matematika cenderung berpikir sesuatu secara ilmiah logis, dan realistis berbeda dengan orang-orang yang mendalami spritual yang cenderung mempercayai bahwa segala sesuatu didunia ini tidak lepas dari pengaruh ghaib, mistis, dan bahkan susah dinalar manusia awam. Seperti adanya tuhan, sebagian umat beragama pasti meyakini adanya tuhan dan meyakini kebenarannya walaupun mereka belum pernah melihat tuhan secara langsung. Hal inilah yang tidak bisa ditafsirkan secara ilmiah tetapi harus secara rohaniah. Namun, ada juga minoritas masyarakat yang tidak mempercayai adanya tuhan karena mereka menafsirkan adanya tuhan dengan logika yang sebenarnya logika tidak dapat dikaitkan dengan tuhan. Kenyataan ini yang mewarnai kehidupan sosial masyarakat kita. Itu sudah menjadi hak mereka untuk meyakini apa yang ingin mereka yakini ataupun sebaliknya.
Kebenaran telah dinyatakan dalam kitab suci Al-Qur’an yang berbunyi: “kebenaran itu adalah dari tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”(QS Al-Baqarah:147). Ini berarti untuk umat islam kebenaran adalah segala sesuatu yang datangnya dari Allah SWT. Kebenaran tidak hanya didasari oleh rasio atau pengalaman individu karena berdasarkan pengalaman individu tersebut bisa jadi terdapat hal yang bukan kebenaran. Maka dari itu manusia selalu mencari jalan kebenaran dengan cara mereka masing-masing. Untuk umat beragama, sudah pasti mereka akan berpatokan pada kebenaran yang melalui tuhannya. Namun sebaliknya, logika bisa jadi salah satu sumber kebenaran mereka. Seperti contoh 1+2=3, hasil penjumlahan ini benar adanya karena bisa didapat dengan mengaitkan hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian kebenaran dalam bidang agama sangat bertolak belakang dengan pengertian kebenaran melalui matematika dimana sesuatu yang dianggap benar adalah sesuatu yang yang sejalan dengan hipotesa-hipotesa atau teori-teori yang membentuknya. (Rand:1982) menyatakan bahwa ada dua teori tentang kebenaran dalam matematika, yaitu teori korespodensi dan teori koherensi. Kebenaran adalah pengakuan realitas. Teori kebenaran korespodensi adalah teori yang berpandangan bahwa pernyataan-pernyataan adalah benar jika berkorespodensi terhadap fakta atau pernyataan yang ada dia alam atau objek yang dituju pernyataan tersebut. Sedangkan teori koherensi berpandangan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar apabila terdapat kesesuaian antara pernyataan satu dengan pernyataan yang lainnya dalam satu sistem pengetahuan yang dianggap benar.
Dari pernyataan diatas, bisa terlihat perbedaan mencolok antara pengertian kebenaran dalam matematika dan agama. Namun, dalam sejarahnya ilmu matematika dan agama adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan karena banyak hal mengenai angka, perhitungan dan lainnya yang terdapat didalam Al-quran. Peranan matematika dalam kehidupan pernah dilontarkan para ahli matematika seperti phitagoras, 10 abad sebelum kelahiran nabi SAW, phitagoras mengatakan angka-angka telah mengatur segalanya. Galileo juga mengatakan bahwa matematika adalah bahasa tuhan dalam menulis alam semesta. Sebagai contoh dalam matematika ada bahasan tentang Relasi yang menyatakan hubungan antara x dan y dimana x sebagai daerah asal dan y sebagai daerah hasil. Bila x={1,2,3} dan y={a.b,c} maka x bisa dihubungkan ke a atau b atau c. Hal ini sama dengan bahasan didalam Al-Quran dimana dikatakan Allah menciptakan manusia secara berpasangan agar saling mengenal satu sama lain.  
Kebenaran pada matematika perlu dibuktikan melalui eksperimen, pembuktian, dan berdasarkan pengalaman yang membutuhkan persetujuan dan berlaku bagi siapa saja. Namun, kebenaran dalam agama adalah hal pasti yang perlu adanya persiapan untuk memahaminya. Dengan mempelajari matematika, secara tidak langsung kita juga sudah belajar ilmu agama karena didalam Al-quran banyak kajian mengenai matematika, science, dan semua komponen didalam semsesta. Walaupun matematika dan agama mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam menafsirkan kebenaran, tetapi keduanya adalah benar adanya karena mereka mempunyai bahasa mereka sendiri untuk penjelasannya. Keduanya pun selaras menopang kehidupan semesta demi kelangsungan hidup manusia.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar