Kamis, 01 Januari 2015

[INDEX] Daftar Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan

Pamela Natasa
Pendidikan Matematika/3B/24


NO
KETERANGAN
BINTANG
1
 **
2
 **
3
 **
4
 **
5
 **
6
 **
7
 **
8

9

10

11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

 ** 

 **


PPT Realisme

this is my powerpoint of realism . check it out http://www.slideshare.net/keisharahmanirmala/ppt-filsafat-realisme

Filsafat Realisme



Berfilsafat Melalui Kebenaran antara Agama dan Matematika
          Definisi filsafat, realisme, dan matematika
            Filsafat artinya alam berpikir. Berfilsafat berarti berpikir. Namun, tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat disini adalah berpikir secara mendalam terhadap sesuatu. Filsafat adalah ilmu pokok atau pangkal ilmu dari segala ilmu pengetahuan. Bahasan filsafat menuju pada pencarian kebenaran/hakekat. Sejak zaman Aristoteles hingga dewasa ini lapangan-lapangan yang paling utama dalam filsafat selalu berputar di sekitar logika, metafisika, dan etika. Dengan memperhatikan sejarah serta perkembangannya, filsafat mempunyai beberapa cabang yaitu: (1) Metafisika: filsafat tentang hakikat yang ada di balik fisika, hakikat yang bersifat transenden dan berada di luar jangkauan pengalaman manusia; (2) Logika: filsafat tentang pikiran yang benar dan yang salah; (3) Etika: filsafat tentang perilaku yang baik dan yang buruk; (4) Estetika: filsafat tentang kreasi yang indah dan yang jelek; (5) Epistomologi: filsafat tentang ilmu pengetahuan; (6) Filsafat-filsafat khusus lainnya: filsafat agama, filsafat manusia, filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat pendidikan, dan sebagainya.
            Real berarti yang aktual atau yang ada. Kata tersebut merujuk kepada benda-benda atau kejadian. Dalam arti yang sempit, realisme berarti anggapan bahwa objek indera kita adalah real. Benda ada itu terlepas dari kenyataan bahwa benda itu kita ketahui, atau kita persepsikan atau ada  hubungannya dengan pikiran kita. Real bukan merujuk pada suatu khayalan namun lebih kepada sesuatu yang nyata.
            Matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Matematika sering disebut sebagai ratunya ilmu atau ilmu pasti. Jika filsafat adalah pangkal dari segala ilmu pengetahuan, maka matematika adalah produk dari filsafat. Di dalam matematika banyak sekali hal-hal yang bisa kita kaji melalui filsafat. Matematika sangatlah memperhatikan semesta. Semua bidang pengetahuan science misalnya sudah pasti akan menggunakan matematika di dalamnya. Untuk sebagian orang awam yang tidak mengerti filsafat pasti tidak pernah menghiraukan misal darimana itu simbol angka “2” atau simbol-sibol yang lainnya. Bila kita berpikir secara filsafat, pasti akan timbul suatu pertanyaan dalam benak kita, mengapa angka dua disimbolkan dengan simbol “2”, mengapa tidak menggunakan simbol lainnya?. Itu salah satu hal yang bisa dikaji dengan filsafat.   
Makna kebenaran
Realisme erat kaitannya dengan sesuatu yang fakta atau yang ada buktinya, bukan kepada sesuatu yang hanya kita inginkan atau kita harapkan.  Apa yang kita yakini ada, biasanya tergantung pada persepsi pertama yang kita yakini. Realisme menyatu dengan kebenaran. Apa itu benar? Mengapa sesuatu bisa dianggap benar? Yang benar sudah pasti bukan yang salah. Untuk membuktikan suatu kebenaran kita terbiasa menggunakan rasio dan juga menggunakan pengalaman. Kata kebenaran sendiri memiliki arti yang berbeda-beda di setiap individu. Sesuatu yang dianggap benar apabila mendapatkan persetujuan benaar dari pihak mayoritas. Dan sesuatu dianggap salah apabila sebaliknya. Sebagai contoh di Indonesia, sesuatu yang dianggap benar adalah sesuatu yang mayoritas. Mayoritas dalam hal ini adalah umat islam di Indonesia. Yang dikatakan benar di Indonesia adalah yang sesuai dengan norma atau hukum islam. Padahal terkadang masyarakat lupa bahwa Indonesia bukan hanya terdiri dari umat muslim.
Kebenaran menurut agama dan matematika
Kebenaran menurut matematika, mungkin akan berbeda dengan kebenaran menurut islam. Hal ini dikarenakan matematika adalah ilmu pasti yang membutuhkan pembuktian dan kesepakatan sedangkan islam meyakini segala sesuatu yang datangnya dari Allah SWT adalah kebenaran. Segala sesuatu yang disuruh, dianjurkan, dan dikatakan didalam Al-quran adalah kebenaran. Ilmuan yang mendalami matematika cenderung berpikir sesuatu secara ilmiah logis, dan realistis berbeda dengan orang-orang yang mendalami spritual yang cenderung mempercayai bahwa segala sesuatu didunia ini tidak lepas dari pengaruh ghaib, mistis, dan bahkan susah dinalar manusia awam. Seperti adanya tuhan, sebagian umat beragama pasti meyakini adanya tuhan dan meyakini kebenarannya walaupun mereka belum pernah melihat tuhan secara langsung. Hal inilah yang tidak bisa ditafsirkan secara ilmiah tetapi harus secara rohaniah. Namun, ada juga minoritas masyarakat yang tidak mempercayai adanya tuhan karena mereka menafsirkan adanya tuhan dengan logika yang sebenarnya logika tidak dapat dikaitkan dengan tuhan. Kenyataan ini yang mewarnai kehidupan sosial masyarakat kita. Itu sudah menjadi hak mereka untuk meyakini apa yang ingin mereka yakini ataupun sebaliknya.
Kebenaran telah dinyatakan dalam kitab suci Al-Qur’an yang berbunyi: “kebenaran itu adalah dari tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”(QS Al-Baqarah:147). Ini berarti untuk umat islam kebenaran adalah segala sesuatu yang datangnya dari Allah SWT. Kebenaran tidak hanya didasari oleh rasio atau pengalaman individu karena berdasarkan pengalaman individu tersebut bisa jadi terdapat hal yang bukan kebenaran. Maka dari itu manusia selalu mencari jalan kebenaran dengan cara mereka masing-masing. Untuk umat beragama, sudah pasti mereka akan berpatokan pada kebenaran yang melalui tuhannya. Namun sebaliknya, logika bisa jadi salah satu sumber kebenaran mereka. Seperti contoh 1+2=3, hasil penjumlahan ini benar adanya karena bisa didapat dengan mengaitkan hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian kebenaran dalam bidang agama sangat bertolak belakang dengan pengertian kebenaran melalui matematika dimana sesuatu yang dianggap benar adalah sesuatu yang yang sejalan dengan hipotesa-hipotesa atau teori-teori yang membentuknya. (Rand:1982) menyatakan bahwa ada dua teori tentang kebenaran dalam matematika, yaitu teori korespodensi dan teori koherensi. Kebenaran adalah pengakuan realitas. Teori kebenaran korespodensi adalah teori yang berpandangan bahwa pernyataan-pernyataan adalah benar jika berkorespodensi terhadap fakta atau pernyataan yang ada dia alam atau objek yang dituju pernyataan tersebut. Sedangkan teori koherensi berpandangan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar apabila terdapat kesesuaian antara pernyataan satu dengan pernyataan yang lainnya dalam satu sistem pengetahuan yang dianggap benar.
Dari pernyataan diatas, bisa terlihat perbedaan mencolok antara pengertian kebenaran dalam matematika dan agama. Namun, dalam sejarahnya ilmu matematika dan agama adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan karena banyak hal mengenai angka, perhitungan dan lainnya yang terdapat didalam Al-quran. Peranan matematika dalam kehidupan pernah dilontarkan para ahli matematika seperti phitagoras, 10 abad sebelum kelahiran nabi SAW, phitagoras mengatakan angka-angka telah mengatur segalanya. Galileo juga mengatakan bahwa matematika adalah bahasa tuhan dalam menulis alam semesta. Sebagai contoh dalam matematika ada bahasan tentang Relasi yang menyatakan hubungan antara x dan y dimana x sebagai daerah asal dan y sebagai daerah hasil. Bila x={1,2,3} dan y={a.b,c} maka x bisa dihubungkan ke a atau b atau c. Hal ini sama dengan bahasan didalam Al-Quran dimana dikatakan Allah menciptakan manusia secara berpasangan agar saling mengenal satu sama lain.  
Kebenaran pada matematika perlu dibuktikan melalui eksperimen, pembuktian, dan berdasarkan pengalaman yang membutuhkan persetujuan dan berlaku bagi siapa saja. Namun, kebenaran dalam agama adalah hal pasti yang perlu adanya persiapan untuk memahaminya. Dengan mempelajari matematika, secara tidak langsung kita juga sudah belajar ilmu agama karena didalam Al-quran banyak kajian mengenai matematika, science, dan semua komponen didalam semsesta. Walaupun matematika dan agama mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam menafsirkan kebenaran, tetapi keduanya adalah benar adanya karena mereka mempunyai bahasa mereka sendiri untuk penjelasannya. Keduanya pun selaras menopang kehidupan semesta demi kelangsungan hidup manusia.  

Selasa, 30 Desember 2014

Kritik



Kritik Tentang Sistem UKT di Untirta yang Tidak Adil
            UKT adalah singkatan dari Uang Kuliah Tunggal dan merupakan sistem baru tarif biaya kuliah yang dimulai pada tahun 2013. Ukt adalah kebijakan yang dikonstruksikan oleh dirjen DIKTI untuk diberlakukan di seluruh universitas negeri di Indonesia. Dalam sistem UKT ini, mahasiswa baru tidak akan diminta untuk membayar uang pangkal (SPL), praktikum, atau biaya tambahan lainnya yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. “pengaruh BOPTN terhadap biaya pendidikan tinggi yang ditanggung mahasiswa, seperti uang gedung, spp, praktikum, uang SKS, uang wisuda, dan total dibayar mahasiswa dikumpulkan jadi satu menjadi UKT,’ ungkapnya Mendikbud Mohammad Nuh, saat konferensi pers peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan tetag Uang Kuliah Tunggal, di ruangan graha 1, Gedung A lantai 2 Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Senin (27/5/2013).
            Pada prinsipnya UKT adalah total biaya operasional yang dibutuhkan menjalankan operasional Perguruan Tinggi Negeri yang dibutuhkan menjalankan operasional perguruan tinggi dikurangi Biaya operasional Perguruan Tinggi Negeri yang didapat dari pemerintah. UKT tidak dibebankan sama kepada seluruh mahasiswa,orangtua mahasiswa atau pihak yang bertanggung jawab membiayai mahasiswa.
            Kategori UKT yang ditetapkan oleh Untirta berdasarkan edaran DIKTi yaitu 5 kategori, meski di beberapa perguruan tinggi lain ada juga yang menerapkan hingga 7 kategori. Adapun rincian kategorinya sebagai berikut :
Kategori
Penghasilan orangtua
Besaran UKT
I
Rp. 0,00 – Rp. 500.000,00
Rp. 400.000,00
II
Rp. 500.000,00 – Rp. 1.000.000,00
Rp. 800.000,00
III
Rp. Rp. 1.000.000,00 – Rp. 2. 500.000,00
Rp. 2.500.000,00
IV
Rp. 2. 500.000,00 – Rp. 5.000.000,00
Rp. 3.500.000,00
V
Diatas Rp. 5.000.000,00
Rp. 4.500.000,00
            Selain adanya bantuan pemerintah melalui BOPTN yang nantinya akan berpengaruh pada besaran UKT, pemerintah juga mengupayakan bantuan melalui beasiswa seperti beasiswa olimpiade, PPA dan BBM, bidikmisi , olahraga, industri, dan beasiswa masyarakat dalam dan luar negeri.
            Namun ada beberapa hal yang kurang relevan dengan kondisi ideal penerapan sistem UKT. Saya sebagai mahasiswa angkatan 2013 pendidikan matematika Untirta merasa keberatan dengan sistem UKT ini. Walaupun sebenarnya lebih menguntungkan karena tidak ada uang pangkal, tetapi yang saya rasakan malah adanya ketidakadilan dalam sistem UKT ini.
            Saya diterima di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Untirta pada tahun 2013 lewat jalur UMBPTN. Saya memilih pendidikan matematika Untirta di pilihan pertama dan alhamdulillah lolos. Kemudian saya datang pada hari pertama daftar ulang untuk menyerahkan berkas-berkas daftar ulang. Didalam berkas-berkas itu terdapat semua identitas saya beserta slip gaji orangtua, slip rekening listrik, keterangan lebar tanah dan lebar rumah di PBB, ada juga keterangan sumber dana, jumlah anak, dan jumlah orang yang ditanggung oleh sumber dana. Setelah menyerahkan berkas-berkas tersebut kemudian pihak rektorat mengatakan secara langsung bahwa saya termasuk kedalam UKT golongan V, sambil mengambil berkas-berkas saya. Saya terheran-heran, kenapa pemutusan golongan UKT bisa secara langsung seperti itu? Lalu digunakan untuk apa berkas-berkas yang telah saya berikan tersebut? Apa tidak dipertimbangkan dahulu?
            Ayah saya bekerja sebagai buruh disalah satu pabrik di Tangerang yang memang memiliki gaji diatas 5 juta rupiah. Tetapi, saya disini mempunyai 2 adik yang juga sekolah. Berarti tanggungan ayah saya yaitu 4 orang termasuk ibu saya. Lalu ada teman dekat saya yang kuliah di fakultas lain di Untirta yang pekerjaan ayahya tidak jauh berbeda seperti ayah saya dan memiliki gaji juga diatas 5 juta rupiah dan dia juga termasuk kedalam UKT golongan 5, tetapi dia adalah anak satu-satunya dikeluarganya. Tanggungan ayahnya hanya 2 orang termasuk ibunya. Disini terlihat bahwa tidak adanya keadilan dan perbedaan biaya kuliah sedangkan antara tanggungan yang sedikit anak dan yang banyak anak. Hal ini menunjukkan bahwa sistem UKT di Untirta tidak menjawab persoalan biaya kuliah terjangkau.
            Belum lagi persoalan-persoalan lain yang menyimpang pada sistem UKT ini dimana saya banyak mendengar mahasiswa yang memanipulasi slip gaji orangtua karena memang slip gaji nya memungkinkan untuk diubah-ubah sesuai keinginan dan juga untuk para mahasiswa yang orangtuanya adalah wiraswasta yang berarti mereka membuat sendiri pernyataan pendapatan penghasilan perbulan yang kemudian tinggal meminta tandatangan dari kecamatan. Mudah sekali bagi pihak-pihak ini untuk menuliskan berapa besarnya penghasilan mereka secara suka-suka dan yang pastinya akan ditulis sekecil mungkin. Lalu, apakah ini bentuk pemerataan? dengan adanya keputusan golongan UKT tanpa adanya pertimbangan terlebih dahulu  seperti ini malahan seperti membuka kesempatan kepada pihak-pihak yang memanipulasi data. Toh juga tidak akan diperiksa secara aslinya bukan?
            Apakah bagian keuangan tau jika misalnya ada mahasiswa yang memanipulasi data penghasilan orangtuanya dan dia mendapatkan golongan UKT rendah tetapi padahal dia termasuk orang yang kemampuan ekonominya diatas rata-rata? Apakah bagian keuangan tau apabila ada mahasiswa mereka yang mendapatkan golongan yang terbilang rendah namun padahal sebenarnya dia tidak mampu karena tanggungan keluarganya banyak?
            Ya. Saya tahu bahwa mahasiswa bisa meminta penurunan UKT, dan kemungkinan besar akan diturunkan golongan UKT nya sesuai dengan kenyataan kemampuan ekonominya dan melalui berbagai/ serangkaian penyidikan. Tapi, bagaimana dengan mereka yang  sudah terlanjur mendapatkan golongan UKT rendah dan padahal sebenarnya tergolong mampu? Hal inilah yang saya sangat sayangkan terhadap sistem UKT di Untirta.
                Saya disini hanya  ingin menagih keadilan! Saya berharap pihak Untirta lebih selektif lagi dan meenentukan golongan UKT dengan pertimbangan. Dan kita sebagai mahasiswa jangan tinggal diam melihat adanya ketidakadilan disekitar kita. Kritis! Dan tuntutlah keadilan yang seadil-adilnya! Hidup mahaisiswa!